Senin, 15 Februari 2010

Situs Terpendam Banjar Indah


Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai nilai budaya yang diwarisakan oleh leluhur-leluhurnya. Disudut Indonesia kota Indramayu, tepatnya di Desa Bulak Kecamatan Jatibarang, terdapat situs terpendam yaitu “Banjar Indah”. Sampai sekarang situs itu masih tetap ada dan hanya sebagian orang yang mengetahuinya. Itu pun terjadi karena para leluhur mereka mewariskannya dari mulut ke mulut. Bagaimana asal usul terjadinya situs tersebut belum dapat dipastikan kebenaran ilmiahnya sampai sekarang.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Banjar Indah itu ada sejak Raja Suryanegara. Pada waktu Sang Raja menyuruh para pekerja untuk membuat bendungan di Desa Bulak. Jumlah pekerjanya adalah 41 orang tidak lebih dan tidak kurang, yang terdiri dari 40 pekerja (Kuli) dan 1 mandor (pengawas). Ketika istirahat tiba, semua pekerja makan seperti biasanya. Hanya saja saat itu Sang Raja lewat dan melihat cara mereka makan, pekerja duduk-duduk di pohon (nongkrong). Kemudian Sang Raja pun berucap, ”Kalian itu seperti monyet saja.” Entah sengaja atau tidak sengaja Raja itu mengucapkannya. Sehingga 41 orang tersebut berubah menjadi monyet penghuni asli Banjar Indah. Dan bendungan yang dibuat pun belum selesai.

“Ucapan orang dulu ma sangat hebat!” ujar Ibu Rus, salah satu warga Desa Bulak. Dan hampir warga bulak mempercayai cerita dari leluhur mereka. Kenyataan lainnya adalah walaupun monyet-monyet itu ada yang lahir tetapi jumlahnya tetap 41. Tidak ada orang yang mengetahui kemana monyet tersebut pergi atau matinya.

Saya sendiri mengetahui cerita tersebut waktu berkunjung ke Situs Banjar Indah bersama kawan-kawan KKNM yang ketika itu KKNM di Desa Bulak. Menurut kuncen di situ, setiap bulan Mulud terjadi perkelahian antar monyet jantan untuk memperebutkan kekuasaan. Jadi siapapun yang menang maka itulah yang menjadi Raja di Banjar tersebut.

Yang menarik perhatian saya adalah mengapa situs yang sudah lama ada ini belum tersentuh oleh tangan-tangan pemerintah untuk menjaga dan melestarikannya. Baik itu Dinas kehutanan maupun dinas pariwisata daerah setempat yang belum melakukan tindakan apapun. Selain itu, saya khawatir akan kesehatan monyet-monyetnya. Bisa saja monyet itu memiliki penyakit dan selanjutnya menular ke masyarakat sekitar Banjar. Padahal kalau dilihat lebih jauh, bukan hal yang tidak mungkin situs ini dimanfaatkan untuk menjadi pendapatan daerah ataupun menambah mata pencaharian masyarakat sekitarnya.



4 komentar:

dije mengatakan...

menarik!!

sebagai generasi muda kita harus mempertahankan budaya kita!

Anonim mengatakan...

keren bngt koq blog'y .. .pi npa kmren D ga di'bkinin yg ky gne....????

Agus mengatakan...

Bro, saya kopi gambar yg ada di sini untuk dipublish di Wikipedia, boleh kan?

creativity in cyberspace mengatakan...

boleh mas, tinggal kopi aja gambarnya,

Poskan Komentar